Selasa, 11 Maret 2014

Kurangi Resiko Kanker Usus dengan Aspirin

Aspirin yang dikonsumsi secara terus menerus mampu mengurangi 60 persen kanker kolorektal (usus) pada orang yang menderita penyakit turun-menurun itu. Demikian menurut laporan jurnal The Lancet, akhir pekan lalu.
Penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan menggunakan sampel yang luas ini, menguatkan bukti lain bahwa aspirin dapat melindungi usus besar dan rektum dari kanker.
Studi tersebut melibatkan sejumlah penderita Lynch Syndrome, kesalahan genetis yang mengubah susunan sel sehingga menyebabkan berbagai macam kanker, termasuk kanker usus.
Sebanyak 861 pasien dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Satu kelompok mengonsumsi dua butir aspirin berdosis 600 mg setiap hari, kelompok lain mengonsumsi pil biasa, atau disebut juga plasebo, sedikitnya dua tahun. Kemudian usus besar mereka diperiksa.
Ketika data tersebut diperiksa pertama kali pada 2007, tidak ada perbedaan di antara dua kelompok itu. Namun semuanya berubah ketika para peneliti memeriksa data itu kembali beberapa tahun kemudian.
Hingga saat itu, terdapat 34 kasus kanker usus di kelompok plasebo, sedangkan di kelompok aspirin hanya 19, atau 44 persen lebih sedikit dibanding kelompok plasebo.
Para dokter kemudian melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap 60 persen pasien yang mengonsumsi aspirin dan plasebo selama lebih dari dua tahun.
Hasil penelitian sub-kelompok itu lebih mengesankan. Terdapat 23 penderita kanker usus di kelompok plasebo, dan hanya 10 penderita di kelompok aspirin, atau 63 persen lebih sedikit dibanding kelompok plasebo. Perbedaan itu baru terlihat setelah lima tahun.
Dari temuan tersebut, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk melihat dosis dan jangka waktu terbaik dalam mengonsumsi aspirin.
"Sementara itu, para dokter klinik harus mempertimbangkan resep aspirin untuk semua orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit kanker usus, dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi efek samping," kata ketua penelitian John Burn, profesor genetika klinis di Universitas Newcastle, Inggris timur laut, dalam jurnal tersebut.
Tahun lalu, sebuah studi yang juga terbit dalam jurnal The Lancet menemukan bahwa jumlah penderita kanker usus besar, prostat, paru-paru, otak dan tenggorokan berkurang akibat konsumsi aspirin setiap hari. Untuk kanker usus besar, resiko di atas 20 tahun berkurang 40 persen.
Banyak dokter menyarankan penggunaan aspirin secara rutin untuk mengurangi resiko serangan jantung, stroke dan masalah sirkulasi darah lainnya. Namun penggunaan aspirin secara terus -menerus dapat menyebabkan efek samping berupa sakit perut.

Selasa, 11 Februari 2014

Awas! Makanan yang Dipanggang Picu Risiko Kanker Dua Kali Lipat

Banyak orang senang menikmati makanan yang dipanggang dan ada banyak restoran yang menyajikan hidangan makanan dengan cara dipanggang. Tetapi, para ilmuwan mengatakan bahwa pilihan terhadap makanan yang terolah itu dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.
Dibandingkan dengan yang direbus, memasak makanan dengan memanggang bisa meningkatkan risiko kanker hingga dua kali lipat, meskipun dagingnya dimasak hingga matang. Para ilmuwan menemukan bahwa daging yang dipanggang atau digoreng menyebabkan mutasi karsinogenik pada permukaan makanan itu.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut kesehatan publik Norwegia menguji tikus sebagai percobaannya yang diharapkan merefleksikan kondisi serupa pada manusia. Mereka menemukan bahwa manusia memiliki enzim tertentu yang disebut sulfotransferases (sult) dalam beberapa bagian dari tubuh mereka. Di tikus, enzim ini hanya ada pada hati.
Enzim Sult berfungsi untuk mengubah beberapa kandungan dalam makanan agar tidak berbahaya. Selain itu, Enzim ini juga memiliki kemampuan untuk merubah makanan menjadi karsinogenik atau kandungan penyebab kanker.
"Kami ingin meneliti perkembangan tumor usus pada tikus yang sering mengonsumsi makanan yang dipanggang dan digoreng dan membandingkan mereka dengan perkembangan tumor pada tikus normal yang diberi makan makanan terkontaminasi yang sama," kata para ilmuwan, seperti dikutip dari dailymail.
Hasilnya menunjukan bahwa para ilmuwan menemukan tumor usus meningkat dari 31 hingga 80 persen pada tikus yang memakan daging yang dipanggang, sama seperti manusia. Selain itu, para ilmuwan juga mencatat bahwa tikus bukanlah percobaan yang sempurna untuk menggambarkan risiko kesehatan usus manusia melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Selasa, 28 Januari 2014

Ditemukan, Bakteri Usus Pemicu Kanker Kolorektal

Kanker usus besar atau kolorektal diketahui merupakan salah satu jenis kanker yang dipicu oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat, seperti makan berlemak, kurang serat, kurang minum, dan jarang bergerak. Namun dua studi baru menemukan, kanker ini juga dipicu oleh bakteri tertentu.

Kedua studi yang dipublikasi dalam jurnal Cell Host & Microbe tersebut mengungkap, tipe bakteri yang dapat ditemukan di mulut ini sangat dapat memicu serangan kanker kolorektal dengan memanipulasi respons imun tubuh.

Para peneliti studi menekankan pada spesies bakteri tertentu yang disebut dengan Fusobacteria nucleatum. Mereka sebelumnya menemukan, jumlah bakteri tersebut banyak di dalam mulut pasien kanker kolorektal. Namun, mereka belum dapat memastikan apakah bakteri ini merupakan penyebab dari kanker.

Dalam studi pertama, para peneliti menemukan, Fusobacteria pada tumor jinak di usus dapat meningkatkan potensi tumor tersebut menjadi kanker. Mereka pun berpendapat, bakteri itu mungkin berhubungan dengan proses pembentukan awal tumor.

Sementara itu, dalam studi kedua para peneliti melakukan percobaan pada tikus yang sudah direkayasa mengalami kanker kolorektal. Mereka menemukan, Fusobacteria meningkatkan jumlah sel kekebalan tertentu yang disebut sel myeloid. Sel tersebut dapat masuk ke dalam tumor dan mempercepat pembentukan kanker.

Usus merupakan tempat ditemukannya triliunan bakteri yang sebenarnya dibutuhkan untuk menjaga kesehatan. Bakteri memengaruhi sistem imun tubuh yang membantu penyerapan sari-sari makanan.

Biarpun demikian, bakteri-bakteri ini terkadang juga bisa memicu penyakit sehingga para pakar mengategorikan bakteri usus menjadi bakteri "baik" dan "jahat".

Para peneliti percaya temuan mereka dapat memberikan dasar diagnosis dan pengobatan penyakit yang lebih baik.

"Fusobacteria mungkin dapat memicu kanker usus, namun yang lebih penting adalah penemuan cara baru untuk menghentikan pertumbuhan tumor dan penyebarannya," pungkas mereka.